My Blog Birthday

This blog was pubished 1'st on 7 March 2013

Minggu, 31 Maret 2013

ANALISIS PUISI SUNGAI MENANGIS



Kali ini saya mau share tugas kuliah sastra saya beberapa semester yang lalu, berikut ulasannya semoga bermanfaat, tapi jangan plagiat yah.. :p



ANALISIS PUISI SUNGAI MENANGIS
KARYA Yudhistira ANM Massardi
melalui pendekatan ekokritik


Oleh :
Gita Felinda Primadasari

0911120022/ Kelas A


PROGRAM  STUDI SASTRA JEPANG
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

Puisi:



SUNGAI MENANGIS

Sungai menangis di celah batu

Gemericik kehilangan lagu

Aku terperangkap di pusar arus

Mata airpun membisu

Aku berenang

Aku berenang dan lelap tenggelam

(Tangan yang basa menyeretku ke hulu

Di sana segala duka membeku)

“Kami tak lagi terbendung

Telah kau dengar tangis anak - anak kami di hilir…”

Suara itu dari sumber sangat dalam

Aku terpaku

Airpun cepat pasang

Anak-anak sungai yang lapar

Menelan segala

Menelan segala


Oleh: Yudhistira ANM Massardi

Pengertian Ekokritik

·         Menurut Siswo Harsono, dosen Fakultas Sastra Universitas Diponegoro

“Secara sederhana ekokritik dapat dipahami sebagai kritik berwawasan lingkungan”.

·         Miller dalam Darsono (1995:16)

”Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya”.



Tentang Pengarang

·         Yudhistira ANM Massardi

Adalah seorang pria kelahiran subang pada tanggal 28 bulan februari tahun 1964. Beliau memulai karirnya sebagai Penyair pada dasawarsa 70-80an. Pada tahun 1985 dia sempat mengikuti International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat. Penyair ini juga memiliki gaya bahasa khas anak muda, idiom bahasa ngepop dan spontan, selain Menjadi Penulis Puisi, beliau juga menjadi penulis  Novel dan juga cerita pendek. Karyanya antara lain Arjuna Mencari Cinta (1997; novel yang mendapat hadiah yayasan Buku Utama departemen P&K ), Sajak Tusuk gigi dll.




Analisis Puisi:

1.    Sungai menangis di celah batu

Gemericik kehilangan lagu

ü  sungai menangis = bencana banjir

ü  celah batu = sempit, tidak dapat menampung banyak air.

ü  “menangis” => Metafora

v  Lirik Puisi ini menceritakan tentang bencana banjir yang terjadi, pada saat seperti ini suara gemericik air sudah tidak terdengar merdu lagi namun menakutkan karena banjir sedang terjadi.


2.    Aku terperangkap di pusar arus

Mata airpun membisu

       Pada saat banjir, arus air akan deras, debit air meninggi. Tanah tak lagi bisa menyerap air yang sangat banyak sehingga banjir tidak dapat dihentikan.

      Mata air membisu= lambang kepasrahan. Karena terlalu banyak air pada saat banjir, tanahpun sudah tidak bisa menyerap air.

3.    Aku berenang

Aku berenang dan lelap tenggelam

(Tangan yang basa menyeretku ke hulu

Di sana segala duka membeku)

·         Berenang, perumpamaan.

·         Hulu, daerah awal aliran sungai, tidak ada banjir, tenang, biasanya terdapat air terjun.

·         Duka membeku= damai, berbanding terbalik dengan hilir yang sedang banjir.

v  Di dalam sebuah artikel, dikatakan bahwa Yudhistira ANM lahir di Subang namun merantau di Jakarta, tidak menutup kemungkinan banjir yang ia saksikan di bantaran sungai di Jakarta ia jadikan puisi, dan ketika ia melihat banjir tersebut ia tiba-tiba teringat pada desanya yang berada di hulu, subang.



4.    “Kami tak lagi terbendung

Telah kau dengar tangis anak - anak kami di hilir”

Suara itu dari sumber sangat dalam

·         Untung tak dapat di raih malang tak dapat ditolak, bencana terjadi, banyak orang- orang yang bersedih karena bencana ini.


5.    Aku terpaku

            Airpun cepat pasang

            Anak-anak sungai yang lapar

            Menelan segala

            Menelan segala

·         Bencana banjir terjadi dalam waktu yang sangat singkat, anak-anak sungai yang meluap dan menyebabkan banjir disekitarnya kemudian menelan banyak korban jiwa.

v  Seperti penjelasan sebelumnya, banjir yang dimaksud dalam puisi ini adalah banjir yang terjadi di sekitar bantaran hilir sungai dan mungkin terjadi di daerah jakarta. Banjir yang terjadi menghanyutkan banyak hata benda masyarakat disekitarnya dan banyak pula yang hilang nyawanya karena banjir yang terjadi.


Kesimpulan

}  Puisi ini menggambarkan Sungai yang lembut dan tenang kemudian menjadi marah karena diperlakukan dengan buruk, seperti halnya manusia yang bila disakiti akan menangis atau marah di dalam puisi ini pun dikatakan si sungai menangis dan tangisannya itu menjadi banjir. Kemarahan alam yang terusik ketenangannya akan merugikan semua makhluk termasuk manusia, oleh karenanya sebagai makhluk yang memiliki kesempurnaan manusia harus bisa memperlakukan alam sekitarnya dengan lebih baik dan lebih bijak. gitalockwood.blogspot.com

}  Karya sastra ekokritik mencoba mengingatkan manusia agar lebih menyadari kehadiran dan peran serta alam serta menegur manusia lewat sindiran-sindiran kejadian alam agar manusia lebih memahami alamnya dan dapat merawatnya lebih baik.


Latar Belakang Pembuatan Puisi

Menurut beberapa artikel yang dibaca penulis, penulis menyimpulkan bahwa Yudhistira ANM Massardi membuat puisi ini ketika ia sedang merantau di Jakarta, ia memiliki rasa simpati pada saat melihat bencana banjir terjadi, Melalui puisi ini ia ingin menyentil hati pembacanya untuk lebih peka terhadap lingkungan di sekitarnya. Dalam sebuah artikel diceritakan bahwa penulis puisi ini berpendapat bahwa banyak kearifan lokal yang sebenarnya jauh lebih berharga daripada ke modern-an yang banyak dianut masyarakat Indonesia pada saat ini. Sebagai contoh arsitektur rumah panggung Jawa Barat, rumah Gadang di Sumatra Barat dll. Padahal terbukti bangunan dengan bilik atau papan, ventilasi yang terjaga dapat tahan terhadap banjir dan juga gempa namun orang Indonesia lebih memilih bermewah-mewahan dengan bangunan beton dan AC yang melubangi ozon kita.

Sehubungan dengan puisi ini pun, dalam artikel garapan Yudhistira, ia menyebutkan bahwa kita, masyarakat Indonesia juga telah meninggalkan transportasi sungai yang dulu sering digunakan dan menggantikannya dengan jalan raya yang terbukti kerap macet, karena tidak dimanfaatkan sungai  banyak ditelantarkan dan menjadi tempat pembuangan sampah sehingga kian tercemar. Melalui puisi ini diharapkan semoga pembaca dapat kembali melirik hati nuraninya dan lebih memperhatikan lingkungannya, terutama di sungai. Terutama untuk orang-orang yang hidup di sekitar sungai baik di hulu maupun di hilir untuk tidak membuang sampah ke sungai.gitalockwood.blogspot.com















v   

2 komentar:

  1. menarik ya :) aku juga suka baca puisi, jadi dapat ilmu baru baca ini.. thanks ya dear

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah na, ini aku uda lama bgt buatnya pas masi maba unyu. hehe..
      Makasaih ya!

      Hapus

Thanks for Reading my Blog
Hope you enjoy mu post

so Glad If you give me some feedback here,

HOT

Thanks for all of your Supports and your time.

PS: i write All of My Post honestly no bad feelings.

*Punya OL Shop dan pengen aku ulas produknya di Blogku? Email!

Hope You Like it.