Kali ini saya mau share tugas kuliah sastra saya beberapa semester yang lalu, berikut ulasannya semoga bermanfaat, tapi jangan plagiat yah.. :p
ANALISIS
PUISI SUNGAI MENANGIS
KARYA Yudhistira ANM Massardi
melalui pendekatan ekokritik
KARYA Yudhistira ANM Massardi
melalui pendekatan ekokritik
Oleh :
Gita
Felinda Primadasari
0911120022/
Kelas A
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
BRAWIJAYA
MALANG
2012
Puisi:
SUNGAI MENANGIS
Sungai menangis di celah batu
Gemericik kehilangan lagu
Aku terperangkap di pusar arus
Mata airpun membisu
Aku berenang
Aku berenang dan lelap tenggelam
(Tangan yang basa menyeretku ke hulu
Di sana segala duka membeku)
“Kami tak lagi terbendung
Telah kau dengar tangis anak - anak kami di hilir…”
Suara itu dari sumber sangat dalam
Aku terpaku
Airpun cepat pasang
Anak-anak sungai yang lapar
Menelan segala
Menelan segala
Pengertian Ekokritik
·
Menurut Siswo Harsono, dosen Fakultas Sastra Universitas
Diponegoro
“Secara sederhana ekokritik dapat dipahami sebagai
kritik berwawasan lingkungan”.
·
Miller dalam Darsono (1995:16)
”Ekologi adalah ilmu tentang
hubungan timbal balik antara organisme dan sesamanya serta dengan lingkungan
tempat tinggalnya”.
Tentang
Pengarang
·
Yudhistira ANM
Massardi
Adalah seorang
pria kelahiran subang pada tanggal 28 bulan februari tahun 1964. Beliau memulai
karirnya sebagai Penyair pada dasawarsa 70-80an. Pada tahun 1985 dia sempat
mengikuti International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat.
Penyair ini juga memiliki gaya bahasa khas anak muda, idiom bahasa ngepop dan
spontan, selain Menjadi Penulis Puisi, beliau juga menjadi penulis Novel dan juga cerita pendek. Karyanya antara
lain Arjuna Mencari Cinta (1997; novel yang mendapat hadiah yayasan Buku Utama
departemen P&K ), Sajak Tusuk gigi dll.
Analisis Puisi:
1.
Sungai menangis di celah batu
Gemericik
kehilangan lagu
ü sungai
menangis = bencana banjir
ü celah
batu = sempit, tidak dapat menampung banyak air.
ü “menangis”
=> Metafora
v Lirik
Puisi ini menceritakan tentang bencana banjir yang terjadi, pada saat seperti
ini suara gemericik air sudah tidak terdengar merdu lagi namun menakutkan
karena banjir sedang terjadi.
2.
Aku terperangkap di pusar arus
Mata
airpun membisu
◦ Pada saat banjir, arus air akan deras, debit
air meninggi. Tanah tak lagi bisa menyerap air yang sangat banyak sehingga
banjir tidak dapat dihentikan.
◦ Mata
air membisu= lambang kepasrahan. Karena terlalu banyak air pada saat banjir,
tanahpun sudah tidak bisa menyerap air.
3.
Aku berenang
Aku
berenang dan lelap tenggelam
(Tangan
yang basa menyeretku ke hulu
Di
sana segala duka membeku)
·
Berenang, perumpamaan.
·
Hulu, daerah awal aliran sungai, tidak ada
banjir, tenang, biasanya terdapat air terjun.
·
Duka membeku= damai, berbanding terbalik
dengan hilir yang sedang banjir.
v Di dalam sebuah artikel, dikatakan bahwa Yudhistira ANM
lahir di Subang namun merantau di Jakarta, tidak menutup kemungkinan banjir
yang ia saksikan di bantaran sungai di Jakarta ia jadikan puisi, dan ketika ia
melihat banjir tersebut ia tiba-tiba teringat pada desanya yang berada di hulu,
subang.
4.
“Kami tak lagi terbendung
Telah
kau dengar tangis anak - anak kami di hilir”
Suara
itu dari sumber sangat dalam
·
Untung tak dapat di raih malang tak dapat
ditolak, bencana terjadi, banyak orang- orang yang bersedih karena bencana ini.
5.
Aku terpaku
Airpun cepat pasang
Anak-anak sungai yang lapar
Menelan segala
Menelan segala
·
Bencana banjir terjadi dalam waktu yang
sangat singkat, anak-anak sungai yang meluap dan menyebabkan banjir
disekitarnya kemudian menelan banyak korban jiwa.
v Seperti penjelasan sebelumnya, banjir yang dimaksud dalam
puisi ini adalah banjir yang terjadi di sekitar bantaran hilir sungai dan
mungkin terjadi di daerah jakarta. Banjir yang terjadi menghanyutkan banyak
hata benda masyarakat disekitarnya dan banyak pula yang hilang nyawanya karena
banjir yang terjadi.
Kesimpulan
} Puisi ini menggambarkan Sungai yang lembut dan
tenang kemudian menjadi marah karena diperlakukan dengan buruk, seperti halnya
manusia yang bila disakiti akan menangis atau marah di dalam puisi ini pun
dikatakan si sungai menangis dan tangisannya itu menjadi banjir. Kemarahan alam
yang terusik ketenangannya akan merugikan semua makhluk termasuk manusia, oleh
karenanya sebagai makhluk yang memiliki kesempurnaan manusia harus bisa
memperlakukan alam sekitarnya dengan lebih baik dan lebih bijak. gitalockwood.blogspot.com
} Karya sastra ekokritik mencoba mengingatkan manusia
agar lebih menyadari kehadiran dan peran serta alam serta menegur manusia lewat
sindiran-sindiran kejadian alam agar manusia lebih memahami alamnya dan dapat
merawatnya lebih baik.
Latar Belakang Pembuatan Puisi
Menurut beberapa artikel yang dibaca penulis, penulis
menyimpulkan bahwa Yudhistira ANM Massardi membuat puisi ini ketika ia sedang
merantau di Jakarta, ia memiliki rasa simpati pada saat melihat bencana banjir
terjadi, Melalui puisi ini ia ingin menyentil hati pembacanya untuk lebih peka
terhadap lingkungan di sekitarnya. Dalam sebuah artikel diceritakan bahwa
penulis puisi ini berpendapat bahwa banyak kearifan lokal yang sebenarnya jauh
lebih berharga daripada ke modern-an yang banyak dianut masyarakat Indonesia
pada saat ini. Sebagai contoh arsitektur rumah panggung Jawa Barat, rumah
Gadang di Sumatra Barat dll. Padahal terbukti bangunan dengan bilik atau papan,
ventilasi yang terjaga dapat tahan terhadap banjir dan juga gempa namun orang
Indonesia lebih memilih bermewah-mewahan dengan bangunan beton dan AC yang
melubangi ozon kita.
Sehubungan dengan puisi ini pun, dalam artikel garapan
Yudhistira, ia menyebutkan bahwa kita, masyarakat Indonesia juga telah
meninggalkan transportasi sungai yang dulu sering digunakan dan menggantikannya
dengan jalan raya yang terbukti kerap macet, karena tidak dimanfaatkan sungai banyak ditelantarkan dan menjadi tempat
pembuangan sampah sehingga kian tercemar. Melalui puisi ini diharapkan semoga
pembaca dapat kembali melirik hati nuraninya dan lebih memperhatikan
lingkungannya, terutama di sungai. Terutama untuk orang-orang yang hidup di
sekitar sungai baik di hulu maupun di hilir untuk tidak membuang sampah ke
sungai.gitalockwood.blogspot.com
v
menarik ya :) aku juga suka baca puisi, jadi dapat ilmu baru baca ini.. thanks ya dear
BalasHapusIyah na, ini aku uda lama bgt buatnya pas masi maba unyu. hehe..
HapusMakasaih ya!